DARI
SEBUAH KOIN, BERIKAN LANGKAH NYATA DEMI KEBERMANFAATAN BAGI MASYARAKAT
Dian
Pashandanu
SMA
Negeri 1 Bojonegoro
LATAR BELAKANG
Sebuah koin Rp 500,- kerap kali dianggap
tidak berharga, dibuang, atau dibiarkan tergeletak begitu saja di tanah. Namun,
bagi kami koin yang dianggap sepele itu adalah rezeki bagi mereka yang
membutuhkan. Bermula dari masa pandemi yang melumpukan seluruh kegiatan di
sekolah baik siswa maupun gurunya, sedangkan kegiatan sekolah masih harus terus
berjalan, begitu pula dengan siswanya. Di tengah masa sulit dimana semua pihak
terdampak pandemi, masyarakat mulai kehilangan kepedulian terhadap sesama, dan
banyak pihak yang membutuhkan bantuan. Lantas kegiatan sederhana apa yang bisa
dilakukan oleh siswa tanpa harus melibatkan banyak orang namun tetap dapat
memberikan manfaat bagi banyak orang?
OSIS SMA Negeri 1 Bojonegoro melahirkan sebuah program
yang berfokus dalam menumbuhkan kepedulian serta empati siswa-siswi yang
mengembangkan serta memberikan inovasi visioner di bidang sosial kemanusiaan,
program ini diberi nama “SMASA Peduli Sosial”. Program ini dilakukan dengan
mengajak para siswa tanpa paksaan untuk menyisihkan dan
menyumbangkan Rp 500 perharinya, sehingga uang koin yang biasa kita remehkan
kini bisa tersalurkan. Dengan jumlah ±1400 siswa, program SMASA Peduli Sosial
dapat terkumpul hingga Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000 perminggunya. Ternyata nilai
yang biasa kita sepelekan dapat menghasilkan ± Rp 30.000.000 – Rp 50.000.000
jika dilakukan dengan konsisten.
Uang yang terkumpul ini nantinya akan disalurkan melalui
program-program yang bermanfaat langsung bagi masyarakat. Adapun program sosial
yang telah terlaksana dari hasil SMASA Peduli Sosial adalah bantuan 2 kursi
roda untuk lansia (2021 & 2022), program bedah rumah (2023), dan bantuan
air bersih (2024). Program SMASA Peduli Sosial telah terlaksana selama ±5 tahun
berturut-turut dari tahun 2021 – 2025.
PERMASALAHAN
Setelah dilaksanakannya program SMASA Peduli Sosial
ditahun sebelumnya, saya terus mencoba mempelajari dan melakukan evaluasi
terhadap program yang telah dilaksanakan oleh pemimpin sebelumnya. Saya menyadari
bahwa adanya beberapa kekurangan dan permasalahan dalam hal “bentuk” dan
“jangka waktu” pada bantuan tersebut. Permasalahan pertama pada program yang
telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya hanya memberikan manfaat bagi satu
orang saja, sehingga uang dengan nilai besar itu hanya habis untuk membantu
satu orang saja. Permasalahan kedua berada pada bantuan air bersih, yang dimana
bantuan air bersih itu hanya dilakukan satu kali saja di beberapa desa di
Kabupaten Bojonegoro sehingga masyarakat tidak dapat merasakan manfaatnya secara
jangka panjang atau permanen. Dua permasalahan ini saya jadikan bahan
pertimbangan dan evaluasi untuk pelaksanaan program SMASA Peduli Sosial di masa
periode kepemimpinan saya.
ANALISIS / PEMBAHASAN
Musim kemarau yang berkepanjangan
serta jenis tanah yang ada di Kabupaten Bojonegoro yang cenderung kering
mengakibatkan kekeringan dan peningkatan kebutuhan serta akses air bersih yang
sulit banyak terjadi pada desa atau dusun di Kabupaten Bojonegoro. Permasalahan
ini menyadarkan saya bahwa air adalah aspek penting yang tidak dapat dipisahkan
dalam kehidupan sehari-hari. Faktor permasalahan dan faktor fakta yang saya
dapatkan ini lantas membuat saya berfikir bagaimana agar fakta kebutuhan air
dan permasalahan kekeringan ini dapat teratasi. Saya kembali mempelajari
bagaimana cara manusia dalam sehari hari mendapatkan dan menggunakan air. Data
yang saya dapatkan, masyarakat Indonesia membutuhkan dan menggunakan lebih dari
100 - 150 liter air per orang setiap harinya. Sedangkan dikutip dari laman
kumparan.com, Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan
dan Kementrian Pekerjaan Umum mencatat sebesar 28 juta penduduk Indonesia
kesulitan dalam mendapatkan air bersih.
Fakta permasalahan ini menghadapkan saya pada pertanyaan
besar, bagaimana rata-rata penduduk Indonesia mendapatkan akses air bersih
setiap harinya? Saya melakukan research mengenai
pertanyaan ini dan mendapatkan jawaban bahwa penduduk Indonesia mendapatkan
akses air bersih melalui sumur bor dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Hasil
ini memberikan pilihan bagi saya untuk bisa menyelesaikan faktor permasalahan
air bersih ini, dengan pilihan melakukan pembangunan sumur bor atau bekerja
sama dengan pihak PDAM. Pilihan ini menjadi salah satu keputusan dan
pertimbangan berat bagi saya sebagai seorang pemimpin. Dengan dihadapkan dua
pilihan ini, saya kembali melakukan research pilihan manakah yang lebih
terjangkau untuk dilakukan oleh seorang siswa SMA dan dengan dana yang
terbatas. Hasilnya, pembangunan sumur bor dinilai lebih efektif serta efisien
untuk dilakukan.
Saya beserta segenap pengurus OSIS SMA Negeri 1
Bojonegoro bergegas untuk mematangkan gagasan ini. Saya dan tim berkonsultasi
dengan pembina dan pihak sekolah, hasilnya saya mendapat dukungan penuh atas
gagasan ini. Langkah awal yang saya lakukan adalah mencari data wilayah yang
sering terdampak kekeringan dan wilayah yang sulit mendapatkan akses air
bersih. Setelah mendata, saya dan tim melanjutkan dengan melakukan survei
wilayah tersebut dan juga berkonsultasi dengan ahli hidrologi air tanah apakah
wilayah tersebut bisa didirikan sumur bor atau tidak. Hasilnya kami mendapati
suatu musala aktif berlokasi di Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu. Musala ini
bernama musala Al-Arofah yang masih aktif dalam menyelenggarakan salat
berjamaah. Kondisi musala ini tidak memiliki sumber air yang dekat sehingga
jamaah terpaksa harus wudu dari rumah.
Setelah menemukan target, saya dan tim memulai membuat
desain dan perencanaan tata letaknya. Setelah disetujui oleh sekolah dan pihak
pembangun, pembangunan pun segera dimulai. Pembangunan ini berjalan selama 11
hari kerja dimulai dari tanggal 8 Agustus 2025 dan selesai pada tanggal 19
Agustus 2025. Saya juga beberapa kali ikut memantau langsung jalannya
pembangunan bersama dengan pihak sekolah. Pembangunan ini disambut hangat oleh para
warga setempat, saya juga sempat berbincang dengan salah satu warga yang
mengaku sangat antusias dengan adanya sumur bor ini. Pembangunan sumur bor dan
pendirian toren ini saya rancang unik dengan mekanisme yang bisa menjangkau
lebih banyak solusi dari beberapa permasalahan.
Mekanismenya adalah air yang disedot dari sumur bor
dialirkan menuju toren, dan toren ini sengaja diletakkan di antara musala dan
bahu jalan dengan tujuan agar air dari sumur bor ini tidak hanya dirasakan
manfaatnya oleh para jamaah musala saja melainkan juga dapat dimanfaatkan oleh
warga sekitar yang membutuhkan air bersih. Dengan demikian permasalahan air
bagi jamaah dan permasalahan akses air bersih bagi masyarakat lainnya dapat
teratasi. Selain itu, musala ini juga memiliki permasalah mengenai sumber
listrik. Listrik musala ini mulanya bersumber dari rumah warga terdekat
sehingga biaya musala ini sepenuhnya ditanggung oleh pemilik rumah tersebut.
Melihat permasalahan ini dan juga dana yang kami miliki masih cukup banyak, saya
berinisiatif juga untuk melakukan pemasangan listik dengan daya yang rendah
sehingga biaya yang diperlukan tidak besar dan nantinya biaya listrik tersebut
ditanggung bersama oleh para jamaah.
Permasalahan kebutuhan air telah teratasi, namun
kebermanfaatan air dari sumur bor ini hanya bisa dirasakan oleh masyarakat
sekitar musala saja. Lantas saya bersama pengurus lainnya kembali melakukan brainstorming
untuk mencari gagasan inovasi yang jarang dilakukan, namun menjadi aspek krusial
dalam sehari-hari. Saya terus mempelajari hal yan sangat dekat dengan kebutuhan
sehari-hari manusia namun tidak semua orang sadari. Lalu saya menyadari suatu
hal, yakni banyak teman-teman kita yang berkebutuhan khusus jarang sekali
mendapatkan atensi khusus oleh khalayak. Teman-teman berkebutuhan khusus ini
ternyata dalam kesehariannya mengalami kesulitan dalam beraktivitas sehari hari
karena kurangnya sarana prasarana penunjang. Menyadari hal ini saya dan tim
kembali melakukan survei pendataan kebutuhan primer yang dibutuhkan oleh
teman-teman berkebutuhan khusus, yang dimana mereka sulit untuk mendapatkannya
karena berbagai faktor.
Hasilnya didapati bahwa sebagian besar teman teman
berkebutuhan khusus ini sangat membutuhkan alat bantu berjalan dan alat bantu
menulis. Dengan hasil itu dan dengan dana yang masih cukup, saya dan tim langsung
melakukan survei harga dan kualitas kursi roda dan alat bantu tulis braille.
Hasilnya dana dari SMASA Peduli Sosial mampu membiayai dan memberikan bantuan
sebanyak 20 kursi roda dan 30 alat bantu tulis braille. Saya bersama tim melanjutkan
dengan mendata Sekolah Luar Biasa Negeri/Swasta (SLBN/S) yang membutuhkan kursi
roda dan braille. Ternyata bantuan ini menuai pujian oleh khalayak ramai
sehingga kami mendapatkan bantuan tambahan 6 kursi roda dari beberapa penyumbang.
Dengan total 26 kursi roda dan 30 braille ini ternyata program yang saya
rencanakan ini dapat memberikan bantuan kepada seluruh SLBN/S se-Kabupaten
Bojonegoro dan satu SLBN di wilayah Kabupaten Tuban.
Adapun
kendala pada pelaksanaan program SMASA Peduli Sosial adalah masih terdapat
beberapa siswa yang enggan untuk menyisihkan sedikit rezekinya untuk program
ini sehingga pendapatan SMASA Peduli Sosial yang seharusnya bisa menyentuh
angka Rp. 3.500.000 perminggunya tidak dapat optimal. Solusi yang saya lakukan
adalah dengan terus melakukan pendekatan dan sosialisasi dengan kerap
menyampaikan hasil dan manfaat dari program ini sehingga banyak dari mereka
yang akhirnya tergerak untuk ingin berkontribusi dalam memberikan
kebermanfaatan melalui program SMASA Peduli Sosial tanpa ada paksaan.
KESIMPULAN / PENUTUP
Kita seringkali meremehkan koin Rp
500 yang kita miliki, padahal tanpa kita sadari hanya dengan sebuah koin Rp 500
kita dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Melalui program luar biasa
ini, saya bisa dikatakan berhasil memberikan inovasi yang visioner dan
memberikan dampak perubahan yang besar bagi banyak orang dengan melakukan
langkah nyata memberikan solusi dari masalah tahunan sehingga dapat mengentas
permasalahan tersebut, dan juga memberikan inovasi bantuan dibidang sosial
kemanusiaan pada aspek yang jarang mendapatkan perhatian dan atensi khusus.
Selama satu tahun periode kepemimpinan saya, tantangan
dan keputusan terbesar yang saya alami sendiri adalah sulitnya dalam membagi
dan mengelola waktu secara efisien. Waktu yang saya miliki sama dengan waktu
yang dimiliki orang lain, namun bagaimana saya harus tetap menjalankan
kewajiban saya sebagai seorang pelajar dan tanggung jawab saya sebagai seorang
Ketua OSIS membuat saya dihadapkan dengan keputusan sulit. Apa yang harus saya
prioritaskan, mana yang harus saya utamakan, dan bagaimana saya harus
mendahulukan kedua kewajiban saya menjadi keputusan tersulit didalam
menjalankan kepemimpinan. Pada awalnya saya lebih mengutamakan kegiatan OSIS
dan sedikit tidak fokus dengan kegiatan pembelajaran saya. Namun ketika melihat
nilai rapor saya yang stagnan bahkan turun membuat cara berfkir saya berubah.
Saya harus lebih seimbang dan tetap bertanggung jawab dalam menjalankan kedua
kewajiban saya tersebut. Hasilnya nilai rapor semester akhir saya dapat
dikatakan cukup memuaskan dibanding nilai sebelumnya.
Saya bersama OSIS SMA Negeri 1 Bojonegoro berkomitmen tinggi untuk terus melakukan perubahan demi perubahan kecil untuk selalu memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat luas. Kini masyarakat sekita musala Al-Arofah bisa dengan mudah mendapatkan akses air bersih dan teman-teman kita yang berkebutuhan khusus kini dapat lebih mudah dalam beraktivitas sehari-hari termasuk dalam kegiatan proses pembelajaran. Meskipun dengan sedikit permasalahan, suatu langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat memberikan dampak yang besar bagi banyak orang.
Post a Comment