GOLDEN TICKET ITS

Perjalanan saya mengikuti seleksi Golden Ticket SNBP di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi salah satu fase paling menantang sekaligus bermakna dalam perjalanan akademik saya. Kesempatan ini bermula dari informasi yang saya terima dari teman-teman dekat mengenai dibukanya jalur Golden Ticket ITS dengan beberapa kriteria tertentu, salah satunya diperuntukkan bagi siswa yang menjabat sebagai Ketua OSIS. Informasi tersebut menjadi titik awal bagi saya untuk berani mengambil peluang besar yang tidak datang dua kali.

Setelah mengetahui adanya jalur tersebut, saya mulai mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pendaftaran. Saya menyadari bahwa seleksi Golden Ticket bukan hanya menilai prestasi, tetapi juga menuntut kemampuan refleksi atas peran dan dampak kepemimpinan yang telah saya jalani. Oleh karena itu, saya menaruh perhatian besar pada penyusunan esai yang akan menjadi salah satu komponen utama penilaian.

Memasuki hari-hari menjelang dibukanya pendaftaran, saya mulai menyusun esai yang mengangkat dampak dari program kerja yang telah saya rancang dan laksanakan selama masa kepemimpinan saya. Proses penulisan esai ini saya jalani dalam kondisi yang tidak mudah. Di tengah penyusunan, saya mengalami sakit dengan demam tinggi, namun kondisi tersebut tidak menghentikan tekad saya untuk menyelesaikan esai dengan sebaik mungkin. Di sela keterbatasan fisik, saya tetap berusaha menata gagasan dan menuangkan refleksi kepemimpinan secara jujur dan mendalam.

Untuk memastikan kualitas esai, saya juga melakukan konsultasi dengan banyak guru. Setiap masukan menjadi bahan evaluasi penting agar esai yang saya susun mampu menggambarkan dampak nyata dari program kerja yang telah saya jalankan, sekaligus menunjukkan nilai kepemimpinan dan pembelajaran yang saya peroleh selama menjabat.

Selain tantangan tersebut, saya juga dihadapkan pada kendala administratif yang cukup menguras pikiran. Daftar sekolah eligible yang menjadi salah satu syarat utama pendaftaran belum juga keluar hingga mendekati batas akhir pendaftaran. Padahal, dokumen tersebut sangat menentukan kelengkapan berkas. Meski berada dalam ketidakpastian, saya memilih untuk tetap fokus menyelesaikan bagian yang berada dalam kendali saya.

Akhirnya, melalui proses konsultasi yang intens, esai yang saya susun dapat dituntaskan tepat pada hari terakhir penutupan pendaftaran. Tak berselang lama, surat pernyataan eligible yang saya nantikan pun terbit hanya tiga jam sebelum batas akhir pendaftaran ditutup. Momen tersebut menjadi puncak dari perjuangan panjang yang sarat dengan tekanan, harapan, dan doa.

Setelah seluruh proses pendaftaran selesai, saya memasuki fase penantian hasil seleksi dengan penuh rasa cemas sekaligus pasrah. Hari pengumuman hasil seleksi Golden Ticket SNBP ITS yang dijadwalkan pada tanggal 20 Januari 2026 pukul 15.00 WIB pun tiba. Namun, pengumuman tersebut harus mengalami penundaan akibat kendala teknis pada website pendaftaran yang mengalami gangguan hingga dua kali. Penantian yang seharusnya berakhir pada sore hari justru berlanjut hingga malam, dan hasil seleksi baru dapat diakses pada pukul 21.00 WIB.

Di tengah penantian panjang tersebut, saya akhirnya menerima kabar yang sangat membahagiakan. Alhamdulillah, melalui proses yang tidak mudah dan penuh perjuangan, saya dinyatakan lolos seleksi dan berhasil mendapatkan Golden Ticket Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota. Rasa syukur yang mendalam menyertai kabar tersebut, mengingat seluruh proses yang telah saya lalui sejak tahap persiapan hingga pengumuman akhir.

Bagi saya, perjalanan mengikuti seleksi Golden Ticket SNBP ITS bukan semata tentang hasil akhir, melainkan tentang proses yang mengajarkan ketekunan, kesabaran, serta keyakinan untuk terus berjuang dalam kondisi yang serba terbatas. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa setiap usaha yang dijalani dengan kesungguhan dan doa akan menemukan jalannya, dan Golden Ticket ITS yang saya peroleh menjadi langkah awal menuju perjalanan baru dalam dunia akademik dan pengabdian di masa depan.

0 Comments

Post a Comment

Post a Comment (0)